Archive for July, 2008

Mengejar Koin

Monday, July 28th, 2008

Bocah kecil duduk di pinggir trotoar

Lusuh dan kumal

Dengan nyawa lain di gendongnya

Sama…

Lusuh dan kumal

Mungkin adik..atau entah anak siapa

Matamata menatap, seperti tiada

Hanya dia dan si adik

Sesekali ditatapnya wajah dalam gendongan

Yang entah memimpikan apa

Mungkin tentang negeri dongeng

Bisa juga negeri di awan

Atau mimpi meneguk sebotol besar susu

Pemberian sang bocah

Lalu pandang bocah berpindah

Pada busbus yang datang dan pergi tinggalkan polusi

Sedang dalam pikirnya hanya ketidaktahuan

Tentang dia yang harus seperti ini

Mengejar koin lewat suara dan nyali

Tibatiba ia berdiri dan berlari

Menuju bus yang hendak laju lagi

Dan dengan lantang dia berucap

”Hai adik…akan kubelikan susu lagi hari ini!”

Jakarta, 28 Juli 2008

(di Halte Slipi Jaya-entah berapa bulan lalu… yang tibatiba mengusikku)

Terang Sendirian

Sunday, July 27th, 2008

Lagi…

Pandang kita jumpai warna berbeda

Tiada mengapa..karena bukan hampa tanpa makna

Terang milikku hanya ada terang sendirian

Tanpa bayang..

Tanpa warna…

Cahaya_pun tiada pada terang_ku

Terang milikmu adalah terang dalam pendar berjuta makna

Bertabur cahaya dalam bayang…

Dalam keteduhan…

Dan bukan terang sendirian…

(25 Juli 2008)

~tiada~

Sunday, July 27th, 2008

Dan aku ingin memelukmu

    : Bumi

(Bukit Dago, 27 Juli 2008)

_____

Bumi adalah makna sebenarnya.

~tiada~ adalah luka bumi <illegal logging, penambangan di area hutan lindung, dll…>

Dan aku ingin memlukmu <melindungi>..mentiadakan ~tiada~ itu

KATA

Sunday, July 27th, 2008

Laju langkah usah terhisap jemu

Diantara kata dan kata

Pada umpama juga laksana

Mungkin sekedar hanya

Maka tak perlu serupa mutiara

Dan kemana langkah membawa

Tetaplah tanya terus menyerta

   : inikah kata kita?

Tapi kata takhendak sama

Hingga menujuku pada kata_ku

Menujumu pada kata_mu yang pernah terberai

Impikan tiba pada makna senyatanya

(Bukit Dago, 27 Juli 2008)

*RINDU

Thursday, July 24th, 2008

Kuselimutkan rayu seperti bunga pada kupukupu

Sulutkan rasa diantara kepak sayapnya

Dan belai lembut kelopak

Bertingkah dengan warnawarna senja

Lagi…rindu mendaki di ketinggian hati

Tak lupa tinggalkan jejakjejak tak terhapus waktu

Sepertimu…

Sepertiku…

Kita…

Dan bungabunga…

Dan kupukupu…

Tanpa sepantun suara dalam rindu

(Senja di Jakarta, 23 Juli 2008)

KEHADIRANMU

Thursday, July 24th, 2008

Jemari katakata bergandengan erat

Menjalin baitbait puisi

Dengan pahatan beragam bayang makna

Kau rengkuh satu warna makna

Untuk layang sapa padaku

Tapi kujatuhkan pandang

Pada bayang warna taksama

Hingga dengan tutur

Kau suguhkan warna makna milikmu

      :  Biru…

Dan sejak itu kutahu,

Hanya terang…tak pernah punya bayangbayang*

(Malam di Jakarta, 24 Juli 2008)

* Promoedya Ananta Toer

MERENUNG

Monday, July 21st, 2008

Lalu sampaiku pada lipatan waktu

Tak hendak tergilas senandung sendu

Atau tersapu rayu

: Sungguh kutak perlu

(16 September 2007/Slipi-Kebon Nanas, saat matahari telah tenggelam)

UNTITLE

Monday, July 21st, 2008

Desir itu ‘tlah tinggal

Saat pucuk daundaun meliuk, memeluk

Pada ragu…pada rindu…

Lalu…

Bukan tak hendak,

Meski rekat oleh tanya berburu waktu

Mengejar…sejajar…

Terpaut di hamparan kenangan

(Bukit Dago, 18 Juli 2008)

KATAKLISMIK

Monday, July 14th, 2008

:  Jiwaku, Laksana kataklismik oleh rindu…(10 April 2008)

saat itu…aku GABAKAN

Tuesday, July 1st, 2008

Dalam bahasa Jawa disebut Gabakan. Aku tidak tahu apa istilah medisnya. Ini adalah salah satu jenis penyakit kulit. Awalnya muncul bintik merah kecil-kecil pada satu tempat tertentu dan gatal. Yang terjadi padaku, gatal itu menyerang lengan kanan. Kupikir hanya gatal biasa, jadi hanya kuolesi minyak kayu putih atau bedak dan gatalnyapun hilang. Ternyata gatal itu tidak hanya muncul sekali, itu terjadi hingga beberapa hari, sampai suatu hari…

Hari Jumat sekitar jam dua siang, tidak tahu kenapa kepalaku tiba-tiba terasa sangat sakit. Aku yakin bukan karena telat makan karena aku sudah makan siang. Sempat berpikir keracunan, maklum menu makan siangku adalah mie instan, tapi aku ragu…

Segera aku ke dapur membuat teh manis. Berharap sakitnya akan berkurang setelah minum teh manis hangat. Saat itu ternyata tidak. Sakit kepalakupun kurasakan tidak seperti biasanya, ini sedikit lebih sakit.

Aku tidak mengeluhkan sakit kepalaku ini pada teman kerja. Jam 16.00 wib, satu jam sebelum jam kantor usai, aku pulang. Tak kupedulikan apa pikiran mereka. Selama perjalanan yang memerlukan waktu sekitar 3 jam itu, tak sedikitpun kurasai berkurangnya sakit ini.

Sampai di rumah kakak di komplek Bukit Dago-Parung, jarum jam sudah melewati 19.00 wib. Sempat kukeluhkan sakit ini pada kakak dan adikku, termasuk dugaan keracunan mie. Kakakku hanya memintaku segera makan. Adikku, tidak bereaksi apa-apa.

Sambil makan dan berbincang dengan mereka, kucoba mengabaikan sakit ini. Bagiku, salah satu cara mengurangi rasa sakit adalah : Berhentilah mengeluh! Dan pikiran itu memang selalu kuingat, terlebih saat sakit.

Aku melewati malam itu seperti biasanya. Termasuk tidak mengubah jam tidur menjadi lebih awal. Aku benar-benar mencoba tidak merasakannya, mengabaikan sakit kepalaku.

Bangun tidur pada sabtu pagi, yang pertama kurasakan adalah : sakit. Ya, kepalaku masih sakit. Kakakku tahu karena aku memberitahunya. Meski begitu, tak kuubah pilihan untuk tidak peduli pada rasa sakit ini. Jadi aku masih melakukan aktivitasku seperti mencuci baju, nyapu, belanja sayuran dan rencananya akan memasak, namun tidak jadi karena kedua kakakku sudah sarapan nasi uduk dan adikku bikin roti bakar untuk kami.

Ternyata aku tidak benar-benar bisa terus mengabaikannya. Sekitar jam sembilanan harus kusempatkan berbaring. Kepalaku memang sangat sakit. Yang membuatku jadi sedih adalah adekku. Dia meledekku karena masih pagi sudah tidur. Sedikit marah, kukatakan padanya : ”Apa selama ini kalau aku baik-baik saja, aku pernah tidur di pagi hari?” Dia diam, tidak merespon. Lalu menghidupkan komputer dan main game. Menyebalkan! Sedang kakakku dan suaminya hari itu pergi ke Pondok Indah Mall (PIM). Mereka berangkat ketika aku menyempatkan berbaring, yang tidak benar-benar tidur.

Kuyakinkan diri untuk tidak mengeluh. Jadi aktivitas bersih-bersih yang tadi tertunda, coba kulanjutkan lagi. Tentunya masih ditemani sakit kepala. Dan aku masih coba tidak peduli. Piring, gelas menumpuk di tempat cucian. Jadi kuputuskan mencucinya lebih dulu. Kemudian membersihkan kamar mandi dan pinggiran kolam. Kain lap sudah banyak yang kotor dan akulah yang harus mencucinya. Kalau menunggu orang lain, aku tidak tahu kapan kain lap – kain lap itu menjadi bersih….

Jam di ruang keluarga sudah melewati angka satu. Setelah makan siang, aku mandi dan tidur. Tak mampu bertahan untuk tetap tak peduli, aku sedikit tergoyahkan. Kepalaku masih sakit dan aku harus tidur.

Entah jam berapa aku bangun. Ternyata sakit itu merasa senang bersarang di kepalaku. Aku tak tahu apa yang membuatnya kerasan. Meski sudah sehari-semalam sakit kepala, aku masih belum memutuskan mengkonsumsi obat. Bagiku, obat adalah pilihan terakhir untuk sembuh dari sakit. Aku hanya menambahkan suplemen makanan saja.

Malam minggu, aku dan adikku nonton extravaganza sambil berbaring di sofa ruang keluarga. Kami berdua sudah makan malam, nasi dengan jamur bumbu cabe ijo yang tadi sore harus kumasak. Kalau tidak, kami makan apa?

Lewat jam tujuh malam, kedua kakakku datang. Kakak perempunku masuk rumah lebih dulu. Melihat kami berdua duduk lemas di sofa, dia hanya tersenyum sambil berkata ”Kacian” (maksudnya bercanda). Kamipun tersenyum.

Salah satu kebiasaan kakakku yang kuperhatikan adalah, apabila bepergian biasanya makan di luar. Tidak makan di rumah. Saat itu yang terjadi adalah hal yang tak biasa. Mereka makan di rumah dan nasi tinggal sedikit. ”Nasinya habis!?!” Itu komentar singkat kakakku yang diikuti dengan raut muka masam. Aku tahu kakakku sedikit marah. Mungkin dalam pikirannya, ”Sudah capek, mo makan ee nasinya habis. Yang di rumah ngapain aja sih?!”. Itu adalah dugaanku, sekali lagi prasangkaku. Sedang dalam pikiranku ”Datang-datang marah, nggak ngrasain dari kemarin kepalaku masih saja sakit”. Menyebalkan!

Adikku beranjak ke kamarnya. Aku lalu bangkit untuk masak nasi. Setelah itu, kuikuti keputusan adikku. Masuk kamar, melanjutkan nonton extravaganza di kamarnya.

Sang waktu terus melaju. Aku mulai merasakan suhu badanku berubah menjadi hangat, terus bertambah, semakin hangat. Lengan kanankupun kembali gatal, juga dibadanku dan wajahku. Sudah banyak muncul bintik merah kecil-kecil. Dengan bantuan adikku, ditaburinya badanku dengan bedak Salicyl. Dia setuju besok pagi mengantarkan ke dokter praktek di ruko depan komplek.

Semakin lama, suhu badanku terus naik. Badanku panas. Kupaksakan diri untuk tidur, tapi sulit sekali. Semakin terasa panas. Cukup lama kurasai panas itu. Lalu keringat dingin keluar. Panasku turun tapi hanya sebentar, kemudian menjadi hangat, semakin hangat dan badanku panas lagi.

Beruntung aku tertidur juga….

Bangun pagi, sakit kepalaku sudah berkurang, tapi tidak benar-benar hilang. Sedang badanku masih hangat. Bersegeralah aku mandi menggunakan bubuk PK. Aku sudah tahu akan tidak mandi dalam 1-2 hari. Jadi pagi ini harus mandi. Adikku juga mandi dulu sebelum mengantarkanku ke dokter. Kutunggu dia di kamarku sambil mengirim sms pada atasan, minta ijin besok tidak dapat hadir di kantor.

Sudah lama menunggu, dia tidak juga memanggilku. Dugaanku, setelah mandi dia membantu kakak di dapur. Tapi terlalu lama. Ternyata dugaanku salah. Dia tidur. Huuh!! Sepagi ini….!!

Kemudian kami berdua turun. Kakakku tahu kami akan ke dokter. Awalnya dia kira akulah yang mengantarkan adikku. Bukan aku yang diantarkan. Hanya kutunjukkan bintik merah pada wajah dan lenganku. Tidak pula kuceritakan tentang sakit kepala dan panas badan ini. Percuma, pikirku!

Jam 09.30 wib, kami ke dokter. Dokter menanyakan lebih dulu mana yang keluar, gatal atau panas? Kujawab : gatal. Kata dokter itu gabakan (kebetulan dokternya orang jawa). Dia tidak mengatakan istilah medisnya. Ini tidak menular, katanya. Kalau panas dulu yang dirasakan kemudian muncul bintik merah tetapi tidak gatal, itu disebabkan oleh virus dan menular. Aku lupa apa namanya. Aku diberi 4 jenis obat, termasuk obat turun panas. Beruntung obatnya generik, jadi tidak terlalu mahal.

Sepulang dari dokter, aku sudah minum obatnya tetapi panas badanku bukannya turun malah terus naik. Bahkan lebih panas dibanding semalam. Kakakku dan suaminya pergi menjemput teman yang akan datang. Tidak ada makanan. Adikkupun tidak berinisiatif membuat sesuatu padahal aku sedang sakit. Aku merasa sendirian….

Sekitar jam setengah duaan, kakakku pulang bersamaan dengan adikku yang akan pergi. Aku di atas, di kamar. Tamu kakakku adalah teman kami, jadi aku juga mengenalnya. Setengah jam kemudian, aku turun menemui mereka. Salah seorang berkomentar, ”Sakit, Fit? Nggak ada yang ngurusin sih”. Aku hanya tersenyum. Dalam hati aku membenarkan ucapannya meski yang dimaksudkanya karena aku belum menikah. Dan yang kumaksudkan, aku sakit tapi mereka tidak peduli. Hatiku ngilu….sementara badanku masih saja panas.

Kemudian aku masak air untuk bikin teh manis. Saat itu, kakakku bertanya apa yang kurasakan. Kujawab hanya dengan gelengan kepala. Setelah itu kembali naik ke kamar. Tidak berapa lama, kakakku menyusul. Menawariku makan, menanyakan apakah sudah minum obat dan bermaksud mengambilkanku puding. Aku menolaknya karena sedang tidak ingin makan. Yang dikatakannya sebelum pergi adalah : ”Tidur lagi aja, istirahat. Biar cepat sembuh”. Dan jawabku singkat, ”Ya”.

Jakarta, 1 Juli 2008